Kamis, 15 Agustus 2019

Pantai Timang menguji adrenaline di atas gondola


Pantai Timang adalah salah satu pantai yang sangat ingin saya kunjungi sedari lama. Tapi sayangnya, banyak diantara teman saya tidak ingin kesana karena biayanya yang sangat mahal. Apalagi Pantai Timang khusus untuk pengunjung yang memiliki nyali besar.

Mengapa Pantai Timang seringkali dibilang Pantainya bagi pecinta adrenalin?

Karena memang untuk menuju kesana pun tidaklah mudah. Apalagi pengunjung dapat merasakan sensasi menyebrangi lautan hanya dengan di tarik tali tambang lalu pengunjung bisa duduk manis didalam gondola terbuka.

Apa kamu yakin bisa menaiki nya jika kamu tidak memiliki nyali yang cukup besar?

Tidaklah mudah buatmu yang memiliki nyali kecil untuk menaiki gondola ataupun menyebrangi  jembatan untuk menuju ke Pulau Timang.

Banyak yang tanya ada apa di Pulau Timang? Apa istimewanya Pulau Timang?

Pulau Timang dulunya adalah tempat para nelayan mencari lobster. Maka dari itu, dengan adanya gondola sebagai alat transportasi nelayan untuk mencapai ke Pulau Timang. Dulunya gondola tersebut terbuat dari kayu dengan alat bantu tali tambang yang bisa ditarik dan diulurkan oleh para nelayan disana.

Mereka saling bantu membantu agar dapat menuju Pulau Timang untuk mencari lobster. Apalagi ombak ganasnya Pulau Timang juga menjadi santapan setiap hari para nelayan agar bisa mendapatkan lobster.

Sesampainya di Pulau Timang kalian bisa melihat keindahan lautan samudera dengan melihat secara dekat ganasnya ombak yang terus berdeburan menghantam batu karang di Pulau Timang. Sensasi dada berdegup cepat akan kamu rasakan saat berada di Pulau Timang.


LOKASI & RETRIBUSI PANTAI TIMANG

Rabu, 31 July 2019 pukul 10.00 AM setelah check out dari Queen of the south beach resort mobil kami melaju begitu cepatnya untuk menuju Kawasan Gunung Kidul. Berhubung tempat kami menginap terletak di Kawasan Bantul, jadi waktu yang ditempuh hanya 45 menit saja.

Perjalanan menuju Kawasan Gunung Kidul sangatlah indah. Kanan jalan terdapat pepohonan rindang, sedangkan kiri jalan terdapat bukit yang sudah terkikis. Kontur jalan yang terbilang cukup luas dengan kelokan yang seringkali kami temukan.

Driver kami melaju begitu cepatnya hingga saya pun merasa agak mual dibuatnya. Memang selama perjalanan tidak ada kerusakan jalan, hanya saja ada beberapa titik sedang ada perbaikan jalan. Sehingga perjalanan kami agak tersendat karena harus bergantian saat akan melaju.

Pantai Timang terletak di Padukuhan Danggolo Purwodadi, Tepus Kabupaten Gunung Kidul. Sebenarnya lokasi dari Queen of the south beach resort, Bantul menuju Pantai Timang, Gunung Kidul sejauh 64 km jika menggunakan Google maps dengan jarak tempuh 1 jam 30 menit.

Tapi kenyataanya, perjalanan kami hanya memakan waktu 45 menit saja. Drivernya sudah paham banget jalan terdekat menuju Gunung Kidul lewat mana.

Saat memasuki pintu masuk Kawasan Gunung Kidul, tiap pengunjung akan dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 10.000/orang kecuali driver-nya yah. Jadi karena kami berdua harus merogoh kocek Rp. 20.000.


Dari pintu masuk, lokasi Pantai Timang masih ke arah timur. Saat dipertigaan kami belok kanan dan menemukan salah satu warga yang mengayunkan tangannya agar mobil kami berhenti. Namun driver kami tetap melaju cepat seakan tak peduli dengan sign dari orang tersebut.

"Bu..orang itu kenapa?"
"Ooohh dia mah cuma mau nawarin sewa jeep aja mba. Gak usah disini kejauhan dan harganya mahal mba"
"Emangnya berapa kalau dari sana bu?"
"Harganya bisa 500.000 per-jeep mba"

Ternyata untuk menuju Pulau Timang, kami tidak bisa menggunakan mobil sewaan karena akses disana masih sangat hancur. Makanya kami disarankan untuk sewa jeep saat perjalanan menuju Pantai Timang.

AKSES MENUJU PANTAI TIMANG

Sesampainya di parkiran mobil, ada banyak jeep yang terpakir di area rumah warga. Ada jeep tebuka hingga tertutup. Saya pun tak tahu, Apakah kami bisa memilih jeep atau tidaknya. 

Tapi yang pastinya saat akan menuju Pantai Timang kami akan diminta uang sewa Jeep Jogja Corner (JEJOCO) sebesar Rp. 350.000 yang berkapasitas 3 - 4 orang.

Jimny

Sebenarnya kendaraan yang kami gunakan untuk menuju Pantai Timang jenis Jimny berwarna putih. Namun warga sana mengatakannya Jeep.

Jeep berwarna putih pada bagian kursi belakangnya tidak ada jendela, dibiarkannya tanpa kaca agar ada udara yang masuk saat akan melaju menuju Pantai Timang. Jeep kami hanya berkapasitas untuk 3 orang saja.

Tapi ada pula, jeep yang berkapasitas untuk 5 orang. Tergantung tamu yang datang berapa orang. Maka warga sana pun akan menyesuaikannya.

Ternyata tamu yang datang kesana lebih banyak dari Malaysia, Singapura dan Cina. Saat kunjungan kami pun, orang lokalnya hanya 2 pasangan saja (4 orang).

Jeep terbuka tanpa sekat kaca

Memang Pantai Timang terkenal mahalnya bagi orang lokal. Namun bedanya bagi orang Malaysia bahwa Pantai Timang adalah salah satu spot yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke Jogja.

Perjalanan kami dari area parkir sejauh 4 km dengan kontur jalan sempit yang dimana saat jeep dari lawan arah berada didepan. Maka laju mobil pun akan sangat pelan sekali karena spionnya pun harus ditekukan agar tidak bersenggolan.

Kontur jalannya masih sangat rusak, tanjakan terjal dan turunan curam menjadi santapan pengunjung yang akan mengunjungi Pantai Timang. Kebayang saja kalau menggunakan mobil sewaan menuju Pantai Timang, nantinya yang ada malah cepet rusak mobilnya.

Tak sampai setengah jam, kami pun tiba di area parkir dekat Pantai Timang. Saat akan memasuki pintu masuknya, pada sisi kanan terdapat toilet yang begitu bersih dan tepat pada sisi kirinya terdapat warung yang menjajakan aneka mie rebus dan goreng hingga kopi dan teh seduh. Jadi kalian tak perlu khawatir kelaparan jika sampai Pantai Timang.

Kami masih harus menuruni beberapa anak tangga yang agak curam karena tiap anak tangga dibuatnya sedikit tinggi. Sesampainya dibawah ternyata ada banyak batu karang didekat area gondola dan jembatan.

Batu karang tersebut begitu tajam dan sedikit runcing. Maka dari itu, berhati-hatilah saat akan berpijak, harus pilah pilih batu karang manakah yang dapat kalian pijak.

Batu Karang Pulau Timang 

GONDOLA PANTAI TIMANG

Kalian bisa memilih untuk menyebrangi lautan menuju Pulau Timang akan menggunakan Gondola Kuning atau Jembatan Goyang Biru.

Untuk biayanya pun bagi pengunjung lokal dan mancanegara juga berbeda. Buat kamu yang ingin merasakan sensasinya naik Gondola harus rela merogoh kocek hingga Rp. 150.000 pulang pergi. Sedangkan bagi wisatawan mancanegara akan dikenakan biaya sebesar Rp. 200.000.

Tali tambang sepanjang 120 meter dengan ketinggian hingga 12 meter telah lama dibuat oleh para nelayan untuk menyebrangi lautan dengan ombak ganas yang dapat menyemburkan air dari bawah hingga terciprat saat menyebrangi lautan.

Katrol yang terpasang pun dijadikannya nelayan untuk menarik dan mengulurkan tali tambang agar gondola dapat berjalan menyusuri tali tambang hingga sampai di Pulau Timang.

Memang saat akan menaiki gondola, dada saya berdegup begitu cepatnya karena ada perasaan takut namun tak mau berhenti disana saja. Saya tetap akan mencoba sensasinya menaiki gondola hingga menyebrangi lautan.

Kaki kanan berpijak kedalam gondola yang berwarna kuning. Sempat agak bergoyang sedikit karena pijakan kaki saya saat masuk kedalam gondola. Pandangan saya pun tidak membelakangi warga yang akan mengulurkan tali tambang. Sehingga saat gondola berjalan posisi saya membelakangi Pulau Timang saat melaju pelan.

Ternyata setiap goyangan gondola membuat dada terus berdeguk kencang. Saya tidak berani melihat kebawah. Makanya saya sibuk mengabadikan moment tersebut dengan kamera gopro yang saya pegang begitu kencangnya dan menghadap keatas langit.

Yah pandangan saya selalu mendengak keatas. Sayangnya ombak ganas sedang bersahabat sekali, sehingga benturan antar ombak yang biasanya begitu dahsyat dan mmebuat cipratan hingga ketinggian 12 meter pun tidak saya rasakan,

Sebenarnya dilubuk hati paling dalam, saya ingin sekali terkena cipratan ombak agar tubuh ini terkena air laut dari ganasnya ombak. Tapi yasudahlah, berarti perjalanan saya aman terkendali.

PULAU TIMANG

Sesampainya di Pulau Timang yang dimana sudah banyak nelayan yang sedang melakukan aktivitas memancing lobster disana. Ternyata di Pulau ini banyak sekali batu karang sehingga membuat tiap pijakan yang saya lakukan pun terasa begitu sulit.

Berhati-hatilah saat memijakkan kaki untuk berjalan karena batu karang yang berada di Pulau Timang begitu runcing dan dapat membuat kaki terluka.

Ternyata bagi pengunjung yang menaiki gondola harus mengikuti arahan nelayan yang sedang berada disana. Kebetulan saat menuju Pulau Timang, saya menaiki gondola sendirian karena suami saya tidak mau ikut nyebrang kesana. Sayang Sekali #hiks

Alasannya karena gak kuat panas. Padahal mah takut kali yah gak mau cobain naik gondola untuk menuju ke Pulau Timang. Jadilah saya jalan sendiri menuju Pulau Timang.

Batu Karang Pulau Timang

Spot foto diatas batu karang

Nah kalau misalkan kamu naik gondola lalu pasanganmu naik jembatan. Nanti saat sesampainya di Pulau Timang kalian tidak bisa berfoto bersama. Mengapa?

Karena ada peraturan untuk pengunjung yang naik gondola dan jembatan memiliki spot foto yang berbeda. Untuk pengunjung gondola memiliki lebih banyak spot foto hingga dapat berfoto di dalam celah Pulau Timang mendekati ganasnya ombak yang terus berdeburan menghantam karang.

Batu karang sedikit menukik sehingga agak berhati-hati saat berfoto

Setelah keluar dari goa kecil dapat melihat lebih dekat setiap ombak yang bergerak

Setengah Goa Pulau Timang

Tangga yang dilapisi tali tambang

Beda halnya dengan pengunjung yang berjalan dengan menggunakan jembatan goyang saja. Mereka hanya bisa berfoto di bagian atas batu karang. Disana pun ada 2 spot foto yang telah dirapikan dengan semen sehingga pengunjung dapat berpijak dengan nyamannya saat berfoto.

Jadi ada perbedaan spot foto untuk para pengunjung yang menaiki jembatan dengan gondola. Sedih yah, kenapa juga harus dibedakan seperti itu. Kan tujuan akhirnya sama saja bukan?

Mungkin karena harga yang berbeda sehingga untuk pengunjung yang menggunakan gondola dapat jauh lebih banyak spot foto agar lebih puas saat akan menghabiskan waktu di Pulau Timang.





Saya pun tak terlalu lama menghabiskan waktu di Pulau Timang karena kasian sama suami yang sedang menunggu di tempat semula.

Saran saja buat teman-teman yang jalan sendirian ke Pulau Timang, tidak perlu khawatir tidak ada yang motoin karena disana ada nelayan yang berbaik hati akan membantu kalian untuk berfoto.

Menikmati deburan ombak dan semilir angin di Pulau Timang dengan menyaksikan luasnya samudera dengan garis lurus pantai yang terlihat dari kejauhan, sangatlah asiikkk walaupun sendirian. Hihihiii...

Buat kamu yang tidak kuat panas harus berhati-hati saat akan menggunakan topi karena anginnya sangat kencang sehingga dapat mengakibatkan topi mu akan terbang. Ada kejadian salah satu pengunjung yang harus merelakan topinya terbang begitu saja.

Cukup bawa selendang saja atau pasmina untuk menutupi bagian atas kepalamu saja. Kalau pasmina setidaknya saat terkena angin kencang pun masih bisa kamu ikatkan pada bagian kepala atau mungkin bisa juga harus rela terus memegangnya.

Kalau saya pribadi sih sudah tidak perduli dengan teriknya matahari. Setidaknya saya sudah menggunakan sunscreen sehingga tak perlu khawatir akan terbakar kulitnya.

***

Saat akan kembali ke tempat semula. Semua nelayan yang ada disana pun mengatakan hal yang sama "Kok udah mau balik aja sih neng"

Jelas saja saya harus balik karena gak tega membiarkan suami sendirian dari kejauhan sambil mantau kondisi saya di Pulau Timang.

Ada baiknya juga sih suami saya tidak ikut jadi saat saya mau turun kebawah untuk berfoto pun tidak ada larangan sama sekali. Maklum suami saya tuh orangnya parnoan banget. Jadi suka banyak ngelarang ini itu.

Benar saja, sesampainya disana saya pun dicubit karena bandel hahahaaa...

Bandelnya tuh karena bikin dia khawatir saat lihat saya turun dibagian batu karang yang agak sedikit menukik. Memang sih agak sedikit bahaya. Itupun kemauan saya untuk bisa berfoto disana bareng ombak hehehee...

SPOT SELFIE


Ternyata saat menuju parkir jeep ada spot foto untuk berselfie berupa jembatan yang begitu panjang. Untuk harganya pun jauh lebih murah yaitu Rp. 30.000/orang. Disana kita bisa berfoto dengan pemandangan Pantai Timang dari ketinggian.

Saya sudah berjalan jauh, sedangkan suami malah tertinggal di belakang. Maklum bininya kalau udah excited suka lupa gitu aja udah punya suami sekarang. Hahahahaa..

Pemandangannya pun tak kalah indahnya dari Pulau Timang. Disana kami bisa berfoto berdua berkat bantuan penjaga jembatannya. Beruntungnya saat itu sedang sepi jadi kita bisa minta tolong untuk difotokan berdua. Sayangnya kami tak lama main disana.





Seandainya saat kesana pas sore hari saat langit akan berubah warna. Mungkin bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi sembari menikmati indahnya pemandangan Pantai Timang.

Sekian sudah perjalanan honeymoon pertama kami yang menurut teman-teman saya keterlaluan. Bukannya enjoy the moment at the hotel. Ini malah adventure banget ke Pantai yang ada di Gunung Kidul. Hahahhaa..

Terima kaish banyak buat suamiku yang sangat pengertian sekali. Semoga rejekimu bertambah selalu yah. Untung kamu sabar dan tidak mendengarkan apa kata orang. Hahahhaa..

BUDGET :

1. Sewa Jeep Rp. 350.000
2. Gondola Rp. 150.000
3. Spot Selfie Rp. 60.000/2 orang


Thanks,

15 Aug 2019

DISCLAIMER :
Tulisan ini murni dari pengalaman pribadi. Seluruh biaya yang dikeluarkan pun dari uang kami sendiri. Tidak ada paid promote, collaboration ataupun Sponsorship.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk ah komen daripada cuma sebarin Spam

Copyright 2012 Dian Juarsa. Diberdayakan oleh Blogger.