Kamis, 08 Agustus 2019

Queen Of The South Beach Resort : Hotel Romantis di tepian Pantai Parangtritis


Menikmati senja yang begitu indah di tepi pantai memang selalu menjadi impian saya bersama orang tersayang. Suasana romantis ditemani matahari terbenam dengan deburan ombak pantai beserta pemandangan yang begitu indah dari atas bukit.

Saya termasuk orang yang begitu beruntung karena dapat kejutan dari suami yang dimana kami baru saja mendapat gelar pengantin baru #uhuk

Tepat pada tanggal 27 July 2019 pernikahan kami diadakan dan akhirnya kami memutuskan untuk honeymoon supeerrrr dadakan.

Padahal rencana kami itu, kalau mau pindah rumah ya mau gak mau jangan honeymoon. Tapi rejeki pengantin baru memang selalu ada saja. Akhirnya kami bisa honeymoon ke Jogja menggunakan kereta. 

Ternyata rencana yang super dadakan itu mengasyikkan yah. Hotelnya pun kami cari setelah membeli tiket kereta. Keberangkatan kami menuju Jogja pada hari Senin, 29 July 2019 pukul 21.45 PM dengan menggunakan kereta eksekutif bogowonto Rp. 350.000/orang.

Sedangkan hotel baru saja kami dapatkan dihari yang sama pada siang harinya. Semuanya sudah dibayarkan tepat pada hari senin sebelum keberangkatan kami. Bahkan yang awalnya rencana kami ingin road trip pun gagal. Saya takut kecapean saja, malah gak enjoy tar honeymoonnya.

Senin, 29 July 2019 perjalanan kami dimalam hari dengan menggunakan kereta bogowonto dengan seat yang tidak terlalu luas namun ada pijakan kakinya. Selimut pun dibagikan ke tiap penumpang agar tidak kedinginan selama diperjalanan.

Sesampainya di Jogja tepat hari Selasa, 30 July 2019 di pagi hari pukul 05.44 AM. Kami tak langsung ke hotel karena batas waktu check in pukul 14.00 PM. Jadilah kami menghabiskan waktu berkeliling Malioboro dan mengunjungi Museum Vredeburgh.

LOKASI QUEEN OF THE SOUTH

Tepat pukul 09.21 AM setelah puas berkeliling Museum Vredeburgh. Kami melanjutkan perjalanan menuju Queen of the south beach resort yang terletak di Kawasan Pantai Parangtritis dan Pantai Depok, Desa Parangrejo RT 13/ RW 13, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bantul.  

Kami tidak sewa mobil melainkan pesan taksi online saat berada di depan museum. Kami pikir akan lama dapat taksi online-nya karena letaknya cukup jauh hingga 29,7 km dengan biaya Rp. 124.000 menuju kawasan Bantul.

Beruntungnya dapat supir taksi online yang menyanggupi perjalanan kami menuju hotel. Kami tidak sempat sewa mobil karena memang rencananya tidak akan kemana-mana selama di hotel.

Staycation sajalah sesampainya di hotel, Menikmati pemandangan dan fasilitas hotel.

Bean bag at Queen of the south

Playground di Queen of the south

Lokasi Queen of the south masih satu kawasan dengan Pantai Parangtritis. Dari Kota Jogja, kami hanya mengarahkan GPS menuju Pantai Parangtritis. Setelah sampai di Pintu Masuk Pantai Parangtritis Kawasan Bantul. Kami dikenakan biaya retribusi Rp. 9.750/orang.

Kurang lebih jarak hingga 1.5 km untuk menuju Queen of the south beach resort. Saat GPS mengarahkan kami menuju Pantai Parangtritis, kami tidak belok kesana. Ikuti saja jalan, hingga akhirnya akan menemui pertigaan dengan plang yang bertuliskan Queen of the south beach resort 800 meter.

Ambil ke arah kanan menuju resort. Sayangnya medan perjalanan menuju resort masih sangat kurang baik karena ada banyak bebatuan kecil dan sepi dengan pasir berwarna putih seperti pasir kapur. Perjalanan kami  hanya memakan waktu hingga sejam saja.

Pemandangan kolam renang : Pantai Parangtritis

Santai di Pinggir kolam sebelum check in


PARANG KENCONO RESTAURANT

Pukul 10.35 AM Sesampainya di Queen of the south beach resort tetap saja masih belum bisa check in. Jadilah kami titip koper di receptionist dan akhirnya kami menuju Parang Kencono Restaurant yang berada didekat kolam renang hotel.

Area restaurant memiliki konsep semi outdoor dengan bentuk bangunan menyerupai rumah joglo yang dilengkapi dengan kursi berwarna putih dan bantal berwarna biru memenuhi setiap sudut ruangan.

Akan tetapi pada bagian sudut ujung kanan dan kiri terdapat furniture yang berbeda dengan hiasan kursi dan meja dari kayu. Ukiran kayu mendominasi ditiap area Parang Kencono Restaurant. Bahkan ada pula gerobak yang nantinya saat pagi akan terisi oleh buah-buahan dan egg corner.

Saat akan makan siang, kami disuguhi pemandangan garis Pantai Parangtritis dari kejauhan. Sayangnya makanan di Parang Kencono restaurant biasa saja. Untuk harganya yah bisa terbilang agak sedikit mahal.

Parang Kencono Restaurant

Pelayanannya pun sangat disayangkan sangat lama. Untuk minta menu makanan saja, Saya sudah minta berkali-kali tapi pelayan resto malah tidak datang juga ke meja kami. Hingga akhirnya saya harus datang kesana dan mengambil menu makanan sendiri.

Tak hanya itu saja, saat pesan makanan pun. Saat saya memanggil pelayannya, tak kunjung tiba menghampiri kami. Hingga akhirnya masih saya juga lah yang datang menghampiri pelayan tersebut. Sangat disayangkan kalau staffnya tidak bergerak cepat saat melayani tamu.

Setelah saya pesan makanan. Hampir setengah jam makanan kami tak datang juga. Entah pelayannya sedang sedikit atau sedang ada masalah apa. Tapi pastinya sudah 2 kali saya tanyakan makanan kami apa sudah ready atau belum, Masih saja belum datang juga makanannya.


Untungnya mood kami sedang bagus karena pemandangannya yang begitu cantik dari ketinggian. Jadilah kami tidak complain dan masih asik memandang keindahan alam yang ada didepan mata.

Akan tetapi sangat disayangkan sekali hotel yang begitu cantik dengan tatanan ruang yang begitu indah memiliki pelayanan dibawah standard. Ada baiknya lebih ditingkatkan kembali pelayanannya, agar tamu pun semakin puas dengan pelayanan dari staffnya.

Pemandangan di area resto sangat cantik sekali. Kami disuguhkan pemandangan Pantai Parangtritis dari ketinggian. Garis lautan samudera pun seakan terlihat dari kejauhan. Angin semilir begitu sejuknya walaupun siang itu panasnya begitu terik. Sehingga kami pun mengabaikan sinar matahari di siang bolong.

Parang Kencono Restaurant di Malam hari dan Siang hari

Kami tetap terpesona dengan keindahan yang terpampang nyata di depan mata. Pohon kelapa pun nyiur melambai mengikuti arah angin. Jogja hari ini terasa begitu sejuk walaupun di siang hari. Tak pernah saya merasakan udara sejuk seperti ini selama di Jogja.

Ternyata memang benar adanya, sudah beberapa hari Jogja memang terasa sejuk di kawasan Bantul. Bahkan saat pagi hari pun cuaca bisa mencapai hingga 18 derajat. Tidak seperti biasanya udara di Pantai Parangtritis tidaklah panas.

Weeiiittsss tapi tetap saja jangan lupa menggunakan sunscreen. Walaupun udara terasa sejuk tapi sinar matahari tetap saja jahat. Warna kulit sudah dipastikan akan berubah semakin menggelap dan buat kamu yang malas menggunakan sunscreen, Jangan heran kalau kulitmu akan terbakar dan mengelupas.

Lunch Time

Tak lama kemudian makanan yang kami pesan pun tiba. Salah satu staff menanyakan kami berada di kamar mana. Tapi sayangnya kami memang belum check-in. Maka dari itu, pembayaran makanannya pun langsung kami bayarkan, agar tidak perlu di charge saat check out.

Untuk makanan yang kami pesan untuk berdua merogoh kocek hingga Rp. 257.000 dengan pesanan makanan :

  • Chicken Gordon Blue (2 porsi) Rp. 150.000
  • Orange Juice (2 porsi) Rp. 50.000
  • Sprite (1 porsi) Rp. 12.397
  • Service & Tax Rp. 44.603
  • TOTAL Rp. 257.000

UPGRADE ROOM

Setelah menikmati makan siang dengan pemandangannya yang ciamik supeerrrr cantiknya. Saya pun bergegas menuju receptionist untuk menanyakan kapan kami bisa check in.

Akhirnya kami pun bisa bergegas untuk check in dan ternyata kamar kami di upgrade dari standard room menjadi superior room yang dimana pemandangan yang kami dapatkan jelas sangat berbeda.

Untuk standard room, ruangannya menyerupai seperti rumah panggung Manado. Bentuk bangunan kamarnya terbuat dari kayu pada bagian lantai, dinding hingga atap kamar dengan pemandangan perbukitan di area kawasan Bantul. Kamar ini dilengkapi dengan teras pada bagian depan kamar lengkap dengan 2 kursi dan 1 meja.

Kamar dari standard room berkapasitas untuk 2 orang dengan pilihan kamar 1 double bed atau 2 single bed yang dipatok biaya sebesar Rp. 875.000 (Harga dapat berubah sewaktu-waktu). Harga yang kami bayarkan di salah satu situs perjalanan online.

Akan tetapi, receptionist hotel bilang kalau standard room sedang penuh jadilah kamar kami di upgrade menjadi superior room.

Superior Room at Queen of the south

Berbeda dengan superior room. Kamar ini memiliki nama dari bunga. Kamar yang kami dapatkan bernama Catleya 6 dengan desain ruangan pada bagian atapnya dilengkapi dengan alang-alang sedangkan pada bagian lantai berupa marmer putih lengkap dengan tiang penyangga.

Pemandangan Superior Room ada yang menghadap ke pantai. Sayangnya kamar yang kami dapatkan pemandangannya hanya atap alang-alang yang dimana kami masih bisa melihat area kolam renang dari kejauhan.

Namanya juga di upgrade jadilah kamar yang kami dapatkan pun seadanya. Akan tetapi, kamar ini lebih luas daripada standard room. Buat kamu yang ingin memesan superior room dapat merogoh kocek sebesar Rp. 1.420.000 (Harga dapat berubah sewaktu-waktu).

Superior Room dengan desain modern minimalis terdapat 1 king bed yang berkapasitas untuk 2 orang dilengkapi dengan tea maker dan televisi. Untuk bagian lemarinya terdapat open wardrobe berupa kayu dilengkapi dengan 3 hanger.

Ruang bagian tengah terdapat kasur dan televisi sedangkan pada bagian sliding door terdapat open wardrobe, washtafel, toilet dan shower room dalam satu ruangan. Kamar ini pun dilengkapi dengan teras yang dilengkapi dengan 2 kursi kayu dan 1 meja lengkap dengan asbaknya.

Catleya Room ( Supeior Room)

Open Wardrobe


Sayangnya baru beberapa menit kami berada dikamar tersebut. Ternyata semua saluran mampet. Saat mandi, airnya tidak mengalir sehingga menyebabkan banjir. Sedangkan pada bagian washtafel saat saya sedang gosok gigi. Saluran airnya pun mampet juga yang mengakibatkan genangan air pada washtafel.

Kami pun tak tinggal diam karena merasa tidak nyaman dengan keadaan yang dimana semuanya mampet. Bahkan untuk sabunnya pun tidak ada. Untungnya kami selalu bawa perlengkapan mandi sendiri. Jadi tak masalah kalaupun sabun dan shampo hotel tidak ada.

Sayang sekali, mereka meng-upgrade kamar dengan keadaan tidak siap. Bahkan di kamar mandinya pun terdapat gumpalan rambut yang belum mereka bersihkan #huft

Setelah complain, tak lama kemudian salah satu staffnya pun datang dan check kondisi kamar mandi dan washtafelnya. Ternyata saluran mampetnya dalam keadaan parah. Sehingga kami tidak dapat menggunakan kamar tersebut.

Akhirnya kami pun diminta pindah kamar sebelah yang bernama Catleya 7. Semua barang yang sudah kami keluarkan dibereskan kembali dan berpindah ke kamar sebelah.

Beruntungnya kamar yang kami tempati tidak ada kendala sedikitpun. Jadilah kami menetap di Catleya 7 dengan pemandangan masih sama berupa atap alang-alang. Hahahaha...

Buat kamu yang ingin menginap di superior room. Kamar ini tidak bersahabat bagi difable atau pun ibu hamil karena untuk menuju kamarnya pun kami harus naik 8 anak tangga lalu melewati kamar anggrek dan masuk kedalam lorong yang dimana pada bagian ujungnya terdapat 14 anak tangga lagi.

Saran saya ada baiknya pesan standard room saja. Selain dekat dengan parkiran, anak tangganya pun hanya 5 pijakan saja. Tidak terlalu capek saat akan naik tangga. Untuk menuju kolam renang pun hanya menaiki 5 pijakan tangga juga.

Toilet Room at Queen of the south


BERMAIN DI PESISIR PANTAI PARANGTRITIS

Rencana awal kami memang hanya staycation saja di hotel. Menikmati fasilitas hotel yang dimana bagi para pengunjungnya dapat berenang sambil menikmati pemandangan Pantai Parangtritis.

Akan tetapi, langit masih terlihat begitu cerah tepat pukul 15.00 PM. Untuk menunggu sunset pun masih harus menunggu hingga 2 seengah jam. Akhirnya kami memutuskan untuk bermain air di Pantai Parangtritis yang dimana kami harus melewati puluhan anak tangga.

Entah ada berapa puluh anak tangga, kemungkinan lebih dari 40 anak tangga. Tangga yang berkelok ke kiri dan ke kanan, Terdapat penyangga di beberapa anak tangga saja. Sedangkan di anak tangga lainnya tidak ada penyangga.

Setiap anak tangga dibuatnya agak tinggi sehingga membuat anak tangga terlihat begitu curam. Setiap pijakan kaki di tiap anak tangga harus ekstra hati-hati karena ada beberapa tangga yang sudah rapuh.

Tangga menuju Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis dari ketinggian

Akhirnya sampai juga di pesisir pantai parangtritis. Angin sore saat itu sangatlah kencang, Rasanya badan seperti ada yang mendorong kuat akibat kencangnya angin. Pasir hitam pun terdapat liukan garis yang membuat pasir hitam dapat terlihat begitu indah.

Ibarat kata, kita sedang ada di gurun pasir tapi bedanya pasir pantai parangtritis berwarna hitam. hahahaha....

Gubuk-gubuk yang terbengkalai pun masih terjajar rapi di pesisir pantai. Ada satu gubukan yang dimana rumah yang terbuat dari kayu bertumpuk jadi satu. Sehingga rumah tersebut terlihat seperti rumah yang diabaikan begitu saja.

Padahal dulunya rumah itu adalah tempat makan yang menjual aneka seafood. Namun saat ini, rumah tersebut kosong begitu saja.


BERMAIN ATV di PANTAI PARANGTRITIS

Berjalan kaki hingga 1 km menuju payung warna warni yang berjajar rapi di area pinggir pantai sudah mulai terlihat. Disana ada tempat penyewaan ATV dengan biaya ATV Kecil Rp. 50.000 dan ATV Besar Rp. 100.000 / 20 menit.

Kami menyewa ATV besar agar bisa boncengan saat bermain ATV. Ternyata tidaklah sulit saat mengoperasikan ATV. Pijakan kaki pada bagian kanan untuk gas sedangkan bagian kiri untuk ganti gigi.


Saat akan melaju pijakan kaki pada bagian kiri harus injak pedal kedepan yang menandakan sudah masuk ke gigi satu. Kalau melaju lebih cepat lagi yang kalian bisa teruskan injak pedal kedepan hingga gigi 4.

Sedangkan saat akan menurunkan laju kendali ATV, kalian tinggal injak pedal kebelakang saja. Sehingga laju ATV dapat berkurang secara perlahan. Cukup mudah bukan bermain ATV.

Oiyah buat kamu yang bermain di Pantai dan lupa bawa sunglasses, tak perlu khawatir karena ada pedagang yang menjajakan kacamata disana. Harga kacamata dimulai dari Rp. 30.000 tergantung pilihan kalian.

Setelah asik menghabiskan waktu di pesisir pantai parangtritis. Akhirnya kami pun kembali ke hotel karena capek berjalan kaki. Akhirnya minta abang ATV-nya mengantarkan kami menuju hotel dan menanyakan berapa tarifnya untuk mengantar kami ke hotel.

Ternyata abang ATV-nya baik sekali. Kami diantarkan secara cuma-cuma alias gratis. Dalam satu ATV kami bertiga sekaligus naik, pada sisi kanan dan kiri dibagian besinya. Saya dan suami pun duduk di sisi kanan dan kiri belakang ATV. hahahaha seru jugaaaa....


MENIKMATI SENJA di PINGIR KOLAM

Setelah asik bermain di pesisir pantai, kami pun lanjut berenang dengan pemandangan pantai parangtritis dari ketinggian.

Sore itu tepat pukul 16.30 PM angin semakin kencang. Saya pun lanjut untuk berenang dengan kondisi kolam renang kosong. Belum ada pengunjung yang berdatangan , setengah jam kemudian barulah banyak tamu yang berdatangan.

Ternyata bagi tamu yang tidak menginap dapat menikmati fasilitas hotel dengan merogoh kocek Rp. 100.000 akan dapat beberapa makanan ringan dan minuman.



Lucunya lagi, saya yang sebagai tamu hotel pun harus bayar deposit Rp. 100.000 jika ingin meminjam handuk kolam yang berwarna biru putih garis-garis. Hmmm agak tak masuk akal yah, kenapa tamu hotel pun masih diminta biaya juga. Yah walaupun uang tersebut akan dikembalikan jika kita mengembalikan handuknya.

Akhirnya saya pun tidak jadi meminjam handuk karena memang kami ke kolam renang hanya membawa handphone dan kunci kamar saja.

Setelah masuk kolam renang ternyata badan saya menggigil akibat kedinginan. Padahal air kolamnya tidak dingin sama sekali. Angin sorelah yang membuat kondisi tubuh terasa begitu dingin hingga menggigil.

Tak lama bermain air, akhirnya saya hanya menunggu sunset di kursi malas. Padahal saya ingin berfoto didalam kolam renang sambil menikmati matahari terbenam. Tapi yasudahlah, rencana tinggal rencana hahaha..



Ternyata pemandangan sunset di queen of the south sangatlah indah. Langit berubah warna menjadi jingga. Matahari sedikit demi sedikit tenggelam diselimuti oleh awan hitam. Matahari senja pun tenggelam begitu cepatnya. Tak sampai 15 menit, langit pun berubah semakin gelap.

Sampai akhirnya kami pun beranjak untuk dinner romantis ditempat yang sama saat kami makan siang. Bedanya pelayanan staff malam itu, terbilang cepat dan ramah.

Saat meminta menu makanan, dengan sigapnya datang menghampiri kami dan tetap stand by di pinggir meja kami sambil menunggu apa saja yang akan kami pesan. Makanannya pun tiba tak terlalu lama seperti tadi siang.

Sayangnya, lihat menu makanannya tidak terlalu berselera karena terlalu monoton. Kami hanya memesan makanan :

  • Sop Buntut / Oxtail Soup (1 porsi) Rp. 75.000
  • Cumi Goreng (1 porsi) Rp. 60.000
  • Nasi Putih (2 porsi) Rp. 20.000
  • Hot Tea (2 tea) Rp. 36.000
  • Service & Tax Rp. 40.110
  • TOTAL Rp. 231.110

Keadaan hotel sangatlah sepi, kalau jalan sendirian saya tidak akan berani karena cahaya terang berasal dari kamar yang terisi tamu. Sedangkan kamar-kamar yang kosong tidak ada penerangannya. Saat memasuki lorong ada cahaya lampu yang memang agak remang-remang.

Kami masih tetap harus menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai kamar Catleya 7. Kamar teratas di Queen of the south beach resort.

Washroom di kolam Renang Queen of the south


JANGAN HARAP ADA SUNRISE

Biasanya kalau kita bisa menikmati sunset. Sudah pastinya tidak akan bisa menikmati sunrise. Akan tetapi, saya tetap kekeuh mau tau dimanakah matahari akan terbit. Sehingga saya bisa mendatangi tempat tersebut.

Sayangnya hingga pukul 06.30 AM langit semakin cerah. Memang sih warna langit saat matahari akan terbit sudah mulai menyembulkan warna jingga walaupun tak terlalu kentara.

Matahari terbit tepat dibalik bukit tinggi yang terletak tak jauh dari Queen of the south beach resort. Akhirnya kami keluar kamar untuk menikmati breakfast yang telah tersedia di Parang Kencono Restaurant.

Sarapan pagi yang tersedia di Parang Kencono Restauranya terdapat aneka bubur seperti bubur kacang hijau, bubur ketan hitam dan bubu sumsum. Ada pula cereal coklat dan vanila yang dilengkapi dengan susu putih.

Makanannya pun tersedia Soun Goreng, Sayur Lodeh, Fuyung Hai, Ayam Mentega, Ikan Goreng. Ada pula 2 gerobak yang terisi dengan buah-buahan dan egg corner yang bisa kita pesan sesuai selera seperti scramble egg, omelette dan sunny side up.


Udara pagi hari terasa begitu dingin dan segaaarrrrr. Sinar Matahari menelisik diantara bukit. Tempat kami sarapan tepat didekat kolam renang karena bisa melihat pemandangan Pantai Parangtritis lebih dekat lagi.

Kami berdua termasuk tamu yang sangat kepagian untuk datang ke Parang Kencono Restaurant. Tepat pukul 06.30 AM kami sudah berada di pinggir kolam. Hahahaha...


Maklum kami berdua morning person dan sama-sama tidak terlalu betah berada di kamar terlalu lama. Bawaannya pengen main keluar mulu. Jadilah sambil menunggu kami duduk santai dulu di pinggir kolam hingga akhirnya sarapan telah lengkap tersedia di area resto.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan kami pun memiliki rencana lain untuk berkunjung ke Pantai yang berada di Kawasan Gunung Kidul. Akhirnya kami minta informasi ke receptionist untuk dicarikan sewa mobil beserta supirnya.

Akhirnya tepat pukul 10.00 AM kami check out dan mendapatkan supir wanita dengan biaya Rp. 500.000 selama 12 jam, sudah termasuk supir dan bensin.

Sekian sudah pengalaman kami menginap di Queen of the south beach. Awalnya kami mau nambah semalam tapi suami saya menolak karena takut ada gempa dan benar saja beberapa hari kemudian Jogja terasa gempa juga. Saat itu kami sudah berada di Malioboro Jogja.

Cheers,

7 Aug 2019

DISCLAIMER :
Tulisan ini murni dari pengalaman pribadi. Seluruh biaya yang dikeluarkan pun dari uang kami sendiri. Tidak ada paid promote, collaboration ataupun Sponsorship.

2 komentar:

  1. Uiiih penganten baru..

    Cerita dapat kamar, tapi ada gangguan seperti keran air dll. Itu memang sangat menganggu. Aku jg sering kaya gtu, bukan pindah kamar malah nunggu di perbaiki. Huft

    Sunset nya keren kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah sedih ya kak. upgrade kamar malah mampet kerannya. Untung dipindahin lagi ke kamar lain

      Hapus

Yuk ah komen daripada cuma sebarin Spam

Copyright 2012 Dian Juarsa. Diberdayakan oleh Blogger.