Jumat, 31 Maret 2017

Hampir kejebak banjir di Curug Ciampea Green Lagoon


Musim yang selalu tidak menentu memang bikin mager (males gerak) untuk keluar rumah. Biasanya tiap weekend selalu ada rencana jalan namun kini untuk melangkahkan kaki keluar rumah saja sudah berasa malasnya. Biasanya di bulan Maret bukan musim penghujan tapi sekarang memang sudah tidak menentu lagi musimnya.

Sudah lama rasanya saya tidak berkunjung lagi ke curug yang berada di daerah Bogor. Dulu teman saya selalu menjuluki saya sebagai Ratu Curug atau Setan Curug karena tiap weekend memang selalu mampir ke berbagai curug yang ada di Bogor. 

Bogor memang dunianya per-curug-an, Bagaimana tidak di tiap gunung pasti selalu ada curug nya. Gunung Bunder pun menjadi salah satu incaran saya untuk menjamahi curugnya satu persatu.

Minggu, 26 Maret 2017 Saya sudah merencanakan perjalanan menuju Curug Ciampea atau bahasa gaulnya Green Lagoon. Curug Ciampea terletak di desa Tenjolaya, kecamatan Ciampea, Bogor. Jawa Barat

Dari Jakarta saya menggunakan motor bareng teman yang bernama Rizki tepat pada pukul 07.30 AM. Memang sangat jauh untuk mencapai Gunung Bunder, Naik motor saja bisa memakan waktu sekitar 4 jam dari Jakarta. itu saja terbilang tidak macet yah. kebayang kan kalau macet bisa berapa lama saya dijalan. 


***

Disini saya tidak bisa menjelaskan rute nya ya guys. Karena saya cuma duduk manis dibelakang motor sembari megang handphone karena butuh bantuan GPS agar tidak tersesat. 

Saat saya menggunakan GPS arah tujuan saya menuju Curug Luhur atau Tenjolaya. Karena Curug Ciampea tidak ada titik kordinatnya. Makanya saya menggunakan kata kunci Curug Luhur Tenjolaya agar bisa menemukan gapura Curug Ciputri saat di perjalanan.

Nah sepanjang diperjalanan selalu lihat posisi sebelah kanan, karena kalian akan menemukan gapura untuk menuju Curug Ciputri. Kalau kalian bertemu Gapura Curug Ciputri langsung saja belok kanan dan ikuti jalan. Kalian akan memasuki perkampungan dengan jalan yang sangat hancur, belum lagi bebatuan besar pun menemani perjalanan kami sehingga terkadang ban selip akibat bebatuan. Kalian akan menemukan lapangan disamping kiri, Untuk menuju Curug Ciampea kita harus belok kanan. Masuk gang yang hanya cukup untuk dua motor dari arah berlawanan. Kebayangkan jalan gangnya seperti apa. Semakin masuk kedalam kalian akan memasuki perkampungan dengan pemandangan kandang kambing, banyak pohon bambu, jalan setapak yang hanya cukup untuk satu motor saja. tanjakan terjal dan turunan yang tajam. Ditambah lagi samping kanan dari jalan setapak yaitu jurang dengan kedalaman yaahh mungkin sekitar 3 meter. Belum lagi bebatuan besar yang tidak menempel sehingga batu yang kami lewati sering terlepas. Beruntungnya kami bisa melalui semua rintangan tersebut. kalau motor tidak kuat nanjak, Rizki yang akan turun dari motor dan saya yang membawa motor untuk naik. Hahahahaa...Gak apalah yaaaa itung-itung olahraga.
Motor harus melewati jalan ini (Photo Credit)

Sempat ragu dengan kondisi jalan yang tidak memungkinkan karena bagi kalian yang membawa kendaraan mobil sangat tidak disarankan untuk menuju Curug Ciampea. Kondisi jalan yang sangat tidak memungkinkan untuk bawa mobil. Selain jalannya rusak, jalanannya pun sangat sempit sekali. Benar-benar jalan setapak yang hanya bisa di lalui satu motor saja. Saya pun heran apa benar jalan ini menuju Curug Ciampea karena kita harus melewati area persawahan yang jalannya sudah di semen. Sehingga dapat dilalui motor dan pengguna jalan. 

Persawahan sepanjang perjalanan

Masih jalan terus sampai ketemu lapangan disamping kiri lalu kita belok kanan

Sejauh mata memandang hanya ada persawahan

Bingung karena tidak ada penduduk yang bisa kami tanya karena posisinya kami berada di tengah area persawahan. Jalan setapak itu hanya ada satu jalur saja. Jadi kami terus mengikuti arah jalan tersebut. Sampai akhirnya ada warga yang sedang menyisihkan dedaunan, Entah daun apa tapi yang pasti dikumpulkan dalam satu karung.

"Punteennn...Ibu ari ka Curug Ciampea teh palih die sanes?" Tanya saya dengan basa sunda seadanya
"Oiyaahhh muhun neng palih ditu, terus aja ikutin jalan neng" Jawab ibu muda yang sedang menyisihkan dedaunan

Ternyata benar, Kami terus mengikuti jalur setapak. Untungnya tidak berpapasan dengan motor lain. Kebayang gimana jadinya kalau sampai ada motor dari arah berlawanan, pasti ribet banget deh untuk lewat area persawahan tersebut.

Pukul 11.20 AM Kami tiba juga di parkiran Curug Ciampea yang mematok harga Rp. 5.000 untuk sekali parkir. Disana motor sudah berjajar banyak sekali. Curiga pasti keadaan curug disana sangat ramai sekali dengan pengunjung. Untuk masuk ke Curug Ciampea akan dikenakan biaya Rp. 5.000/orang.



Area Parkir Curug Ciampea

Masih harus berjalan kaki menyusuri hutan dengan kondisi jalan yang masih berupa batu besar membuat saya terus menundukkan kepala karena takut kakinya selip diantara bebatuan. Agak kesulitan berjalan dengan kondisi bebatuan. Lebih enak kalo kesini pake sepatu boots sekalian karena kaki kalian akan tetap terlindungi tapi ribet banget kalau sampai harus pake sepatu untuk ke curug saja. Makanya saya hanya menggunakan sepatu biasa aja, sampai curug ganti sendal jepit.

Bebatuan besar sepanjang perjalanan
Pintu Masuk Curug Ciampea
Tiket Masuk Curug Ciampea Rp. 5.000

Tak lama dari parkiran saya sudah menemukan Pintu Masuk Curug Ciampea. Dikira tinggal beberapa meter saja saya sudah sampai di Curugnya. Ternyata tidak...Perjalanan masih jauh. Menurut AKAMSI a.k.a Anak Kampung Sini, perjalanan hanya memakan waktu 15 menit saja. Ingat...Jangan pernah percaya dengan perkataan akamsi karena mereka sudah terbiasa jalan kaki cepat. Makanya mereka tidak perlu memakan waktu terlalu lama di jalan. beda halnya seperti saya yang jarang sekali berolah raga atau berjalan cepat. Saya tidak menghiraukan apa perkataan mereka karena saya yakin sepanjang perjalanan saya akan menemukan keindahan dibalik bukit.


Untuk mencapai Curug Ciampea, Saya harus menyebrangi sungai kecil dengan jalan setapak yang kondisi tanah merahnya agak becek akibat pijakan kaki dari para pengunjung sehabis menyebrangi sungai kecil. Jalan setapak yang begitu sulit dilewati karena harus memanjat keatas akibat tanah yang menjadi pijakan kami agak rusak sehingga tidak dapat dilalui sehingga saya pun agak kesulitan untuk melewati pijakan yang hanya setapak saja. 

Pemandangan yang saya lalui samping kanan masih berupa hutan alami sedangkan samping kiri saya sudah banyak persawahan yang menghijau. Gunung pun sudah tertutup kabut setengah, jajaran hutan pinus sudah terlihat dari kejauhan, Semuanya hijau tak ada gersang sedikitpun. Sungguh mereka beruntung bisa hidup di lingkungan yang berudara segar dan masih alami.
Gunung yang tertutup kabut
Ada hutan pinus yang berjajar
Hampir sampai di Hutan Pinus
Tak lama kemudian kami pun disuguhkan oleh pemandangan pohon pinus. Banyak sekali pohon pinus yang berjajar rapi menandakan bahwa kami sudah dekat dengan area Curug Ciampea. Memang hutan pinus ini membuat pemandangan seakan indah seperti lukisan dan rasanya sangat disayangkan kalau kita melaluinya begitu saja. tanah merah yang tidak tertutupi oleh rumput membuat saya kesulitan untuk melewatinya. Bagaimana tidak, berkali-kali saya hampir saja terpeleset #huft

Sesampainya di Hutan Pinus kami masih harus turun melalui tangga seadanya dengan pegangan yang telah dibuat dari kayu. Agak mengerikan untuk menuruni tangga yang seadanya. Tanah merah yang begitu basah membuat tangga sedanya yang hanya berupa akar saja licin sehingga diharuskan bagi para pengunjung untuk berpegangan karena akan sangat berbahaya jika terjatuh di tangga itu, masih banyak batu tajam yang tertancap ditanah.
Satu pohon pinus ada yang tumbang
Curug Ciampea sudah terlihat dari ketinggian
Saat akan menuruni tangga ada pengunjung yang membuang sampah botol sembarangan. Sempat kesal melihat perempuan ini membuang sampah gitu saja karena biar bagaimanapun sampah itu harus di buang pada tempatnya. jika memang tidak menemukan tempat sampah, ada baiknya simpan dulu dalam tas, nanti baru deh botolnya dibuang. Karena mulut saya terasa gatal untuk menegurnya, Akhirnya saya pun langsung menegur mereka

"Dek buang botolnya jangan sembarangan, pegang aja dulu tuh botol. jangan nyampah" tegur saya ke pengunjung itu
"Oh iya maaf" Cewe itu pun langsung memungut botolnya


***

LEUWI TONJONG

Bisa dibilang wisata ini sangat murah, karena hanya dengan merogoh kocek Rp. 5.000 saja kita bisa menikmati keindahan 3 curug sekaligus yaitu Curug Ciampea, Curug Cipatat dan Leuwi Tonjong. Ketiganya memiliki perbedaan masing-masing.

Leuwi Tonjong memiliki ketinggian sekitar 4 meter. Banyak sekali pengunjung yang melakukan atraksi loncat indah disini. Untuk kedalamannya sekitar 3 meter. Jadi masih aman kalau memang mau loncat di Leuwi Tonjong. 

Curug Ciampea ini baru dibuka oleh warga setempat pada bulan April 2016. Belum terlalu lama namun namanya sudah banyak dikenal orang karena belum lama MTMA datang berkunjung dan melakukan shooting ditempat ini.

Leuwi Tonjong sering kali disebut Green Lagoon oleh para pengunjung tapi sayang orang kampung sini tidak ada yang tau apa itu Green Lagoon. So you guys kalau mau tanya Leuwi Tonjong gak usah bilang Green Lagoon yah. Karena percuma, Mereka juga tidak akan tau. Kalau mau tanya penduduk sekitar, cukup bilang Curug Ciampea. Mereka pasti akan tau dimana letaknya curug itu.

Leuwi Tonjong atau Green Lagoon
Beruntung saat kemari sedang agak kosong
Aliran sungai menuju Leuwi Tonjong yang berasal dari Curug Ciampea

Tidak lama saya bermain di Leuwi Tonjong, Hujan pun tak kira-kira turun dari langit. Deras...Langsung deras sehingga membuat semua para pengunjung sibuk mencari tempat berteduh. Kalau saya tidak mencari tempat teduh karena badan sudah basah kuyup dan tas pun pakai dry bag jadi gak khawatir kalau pun kena hujan. Tapi yang saya bingung adalah bagi pengunjung yang sudah basah kuyup tapi takut kena air hujan. Kenapa harus takut coba? Kan udah basah karena abis main air. Bingung juga sih sama pengunjung yang seperti itu. Mungkin mereka takut pusing kali yah kepalanya. Hahahahhaa :p

***

CURUG CIAMPEA

Curug Ciampea ini memiliki ketinggian 14 meter. Saat hujan deras saya sempat bermain di curug ini. Namun tidak lama kemudian penjaga warung satu-satunya yang berada di Curug ini memanggil kami semua yang masih asik bermain di Curug Ciampea.

"Mas..Mba..Cepet naik keatas jangan main di curug ini" Teriak penjaga warung dengan muka panik sembari bawa payung warna warni saya.

Saya bingung mengapa mas ini mukanya begitu tegang dan panik. Saya dan Rizki pun tidak mengabaikan apa yang dikatakan mas nya. Dengan cepat saya mengikuti jejak langkah mas penjaga warung untuk ke lokasi yang lebih aman lagi.

Curug Ciampea dengan ketinggian 14 meter

Dengan sigap memanjati batu besar lalu menyebrangi beberapa bebatuan yang jarang dan Rizki terus menuntun saya untuk bisa menyebrang. Kami tetap berusaha berhati-hati saat memijakkan kaki di bebatuan karena licin akibat lumut yang menempel. 

Saya tetap merasakan kepanikan yang dialami mas penjaga warung seakan dia tau akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan muka penasaran saya pun tidak melepas pandangan sedikitpun dari mas penjaga warung. Saya tetap mengikuti kemana mas penjaga warung itu berjalan.

Roti penyelamat perut dikala lapar

Sesampainya di warung saya pun bertanya dengan rasa penasaran karena sepertinya mas penjaga warung ini pernah mengalami hal buruk di Curug Ciampea.

Roti yang menganggur di tas, saya ambil untuk dimakan sembari ngobrol dengan mas penjaga warung agar saya pun tidak ikutan panik.

"Mas tadi kenapa kok kita gak boleh main" Tanya saya sembari makan roti
"Bukannya gak boleh teteh tapi takut ada batu jatuh dari atas" jawab mas penjaga warung
"Oohhh gituuuu" Kepala mengangguk-angguk seraya mengerti sama apa yang dikatakan mas penjaga warung

Setelah panjang lebar saya bertanya ternyata benar saja kalau dua bulan lalu ada pengunjung mancanegara yang terjebak di Curug Ciampea dari jam 5 sore hingga jam 9 malam. Luapan air Curug Ciampea membuat mereka tidak bisa menyebrangi sungai. Ternyata mas penjaga warung ini lah guide yang mengantarkan kedua turis itu berkunjung ke Curug Ciampea. Makanya rautan wajah yang begitu kencang tidak bisa dibohongi. Kepanikan yang dirasakan mas penjaga warung ini sangat terasa dari mimiknya yang begitu tegang. Memang kalau mau ke Curug Ciampea sangat tidak disarankan kalau hari menjelang sore. karena debit air akan semakin tinggi dan berbahaya akibat musim penghujan masih belum berakhir. 
***

CURUG CIPATAT

Curug Cipatat berada dibawahnya Curug Ciampea dan Leuwi Tonjong. Kondisi curug ini air sungainya sudah berubah menjadi kecoklatan. Hujan semakin deras, debit air semakin tinggi. Saya masih menyempatkan waktu sebentar untuk mengunjungi Curug Cipatat yang bisa dilalui hanya dengan beberapa langkah saja dari Leuwi Tonjong. 

Ketinggian Curug Cipatat hampir sama dengan Curug Ciampea. Saat air hujan belum turun, kondisi air tepat dibawah rintikan dari atas hanya sebetis saja. Namun karena hujan turun begitu lebat, Debit air pun sudah tidak bisa dipastikan berapa kedalamannya karena air yang awalnya begitu tenang berubah menjadi seperti amukan air yang begitu kencang dengan aliran airnya yang terus mengalir seakan mereka berebut untuk bisa melalui celah bebatuan.

Curug Cipatat
Amukan air yang begitu deras

Rizki memberanikan diri untuk menyebrang bebatuan
Tepat dibawah aliran Curug Cipatat
Rizki masih saja penasaran mau naik keatas untuk melihat keadaan air tepat dibawah Curug Cipatat. Saya pun menolak keras sama ide yang dilontarkan Rizki. Karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi jika memaksakan kehendak untuk bisa mengikuti keinginan sendiri. Berhati-hatilah saat kondisi curug sedang dalam keadaan hujan karena bisa jadi air bah datang dalam waktu sekejap.

KONDISI LEUWI TONJONG SAAT HUJAN

Sudah lama saya tidak merasakan mandi hujan, Saya pun kegirangan dengan rintikan hujan yang begitu deras membuat saya ingin bermain air juga. Tapi sayangnya air sudah berubah warna, Saya pun malas untuk bermain air juga. Jadi saya dan Rizki cuma muter-muter aja keliling curug untuk melihat kondisi debit air yang semakin naik.
Air berubah kecoklatan
Payung cuma jadi properti aja
Derasnya air di Leuwi Tonjong

Sempat bingung dengan para pengunjung yang harus melintasi air sungai dengan seutas tali. Saya pikir mereka kurang kerjaan untuk melintasi sungai dengan debit air yang naik dan juga deras.

"Mas pada ngapain sih itu, bukannya jalan diatas aja" Tanya saya penasaran
"Tau tuh mba kaya kurang kerjaan aja" Jawab mas nya nyinyir

Saya bergegas membereskan tas bawaan dengan maksud memang mau pulang dengan kondisi basah kuyup. Ternyata mas penjaga warung memberitahu kalau jalan pulang hanya bisa dilewati dari bawah dan harus menyebrangi sungai. WHAAAAAATTT!?!!@#$%&

Saya tidak habis pikir ternyata saya hampir kejebak banjir di Curug Ciampea. Yaahhh benar kejebak banjir...Luapan air yang terus naik membuat saya bingung kelimpungan karena saya paling takut melintasi air sungai. Bukannya apa, Kaki saya tak cukup kuat untuk menopang badan dengan derasnya air yang terus membuat kaki saya tidak kuat menahan air.

Sandal sudah ditangan, Seutas talipun sudah saya genggam sekencang mungkin. Kondisi air setinggi paha membuat saya deg-degan tak karuan karena ingat video yang pernah di share teman kalau pernah ada pengunjung yang terseret air karena banjir bandang. 

"apa ini banjir bandang, pliiisss jangan banjiirrr pliiisss. Semoga kami semua selamat melintasi sungai" seraya dalam hati tidak ingin terjadi suatu hal yang tidak diinginkan

Debit air semakin tinggi
Genggaman tangan saya semakin kuat, beberapa langkah lagi saya akan sampai di ujung namun debit air semakin tinggi. Entah bagaimana caranya saya dapat melintasi sungai karena kaki saya terus terseret air yang membuat saya semakin kelimpungan karena bingung harus pakai cara apa agar bisa menyebrang sungai dengan debit air yang begitu deras. Beruntungnya mas penjaga warung menolong saya dengan mengulurkan tangannya agar sendal saya berpindah tangan lalu membantu saya untuk berpegangan tangan agar saya dapat dengan kuat memijakkan kaki dari batu satu ke batu lainnya.

"ALHAMDULILLLAAAHHHHHH....terima kasih ya mas" Ucap saya senang

Saya senang bukan kepayang karena apa yang saya pikirkan tidak terjadi. Saya dan Rizki dapat melintasi sungai dan bersyukur bisa pulang dengan selamat. Mungkin ini sebuah pelajaran buat saya. Kalau berkunjung ke curug manapun saat kondisi hujan lebat, ada baiknya langsung pulang saja karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya.

Leuwi Tonjong yang semakin deras debit airnya

Akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan pulang. Beberapa pengunjung mulai berdatangan saat air hujan sudah reda

"Gak usah kebawah mba percuma banjir curugnya juga. Itu aja masih ada yang kejebak" Sahut saya ke pegunjung
"hah masa sih mba?" jawab wanita yang berkerudung

Memang banyak sekali pengunjung yang terus berdatangan setelah hujan reda. Mereka tidak tahu kalau kami berjuang untuk bisa menyebrangi sungai dengan kondisi air yang terus naik. Saya pun tidak menggunakan alas kaki karena licin saat menggunakan sendal jepit.

Biasan orange yang menyelinap dibalik pohon pinus

Namun siapa sangka dibalik hujan deras, air curug yang kecoklatan dan kondisi jalan yang becek akibat air hujan kami bisa melihat setidaknya sedikit goresan langit yang berwarna orange pudar. Seandainya ada sunset, pasti sinar dari senja akan menelisik masuk ke celah-celah pohon pinus sehingga membuat foto terasa begitu indah. Memang di hutan pinus ini instagrammable banget, pas banget buat kalian yang ingin sekedar mencari tempat yang kece untuk diposting di berbagai social media.
Area Persawahan setelah hujan
Pematang sawah yang menghijau

Langit semakin gelap, kami pun tidak melanjutkan perjalanan kembali karena masih harus melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Sebenarnya kawasan Tenjolaya ini banyak sekali curugnya. Tapi sayang, waktu tidak memungkinkan kami melanjutkan perjalanan. Mungkin next time bisa kembali lagi ke Gunung Bunder.


BUDGET

  • Tiket masuk curug Rp. 5.000
  • Parkir Rp. 5.000
  • Toilet Rp. 2.000
  • Pop Mie Rp. 8.000
  • Cemilan Rp. 22.000

Itinerary

  • 07.30 AM   Jalan dari Jakarta ke Curug Ciampea
  • 11.20 AM   Tiba di parkiran Curug Ciampea
  • 11.35 AM   Trekking ke Cuug Ciampea
  • 11.53 AM   Tiba di Curug Ciampea
  • 13.20 PM   Balik ke Parkiran Curug Ciampea
  • 14.00 PM   Tiba di parkiran dan bilas ditoilet gratis


4 komentar:

  1. Serem juga ne curug kalo ujan kaya aer bah udah kaya curug penganten karawang, lebih cepet berangkatnya lewat jalur sungai, kalau jalur pinus lumayan cape.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emangnya Curug Penganten Karawang dimana gtu? Bagis gak curugnya?

      Hapus
  2. Keren mba ,inspiratif jadi pengen kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaaahhh thank youuuu...Cuuusss maen kesana

      Hapus

Please Comment and Follow ya guys ^.^

FANPAGE FACEBOOK

Twitty

Contact Us


Haloha...Jika kalian menemukan kendala atau masalah dengan Blog Untold Story. Kalian bisa menghubungi kami dengan mengisi Contact Form dibawah ini. Apabila ada sesuatu yang ingin ditanyakan atau ingin bekerja sama dengan kami. Dengan segera mungkin kami akan cepat tanggap dan menyediakan waktu untuk anda. Kami juga menerima kritik dan saran yang membangun agar Blog Untold Story dapat berkembang lebih baik lagi. Terima Kasih 


Name :

Email: *

Message: *



Hubungi Kami :
Nama : Dian Juarsa
Email : dianpjuarsa@gmail.com
Phone : 0813 222 030 93