Senin, 30 Juli 2018

Curug Cikuda Bogor - Curug tersembunyi yang belum terjamah


Curug alami yang masih belum terjamah masih sangat banyak sekali di kawasan Sentul, Bogor. Banyak pengunjung yang ingin menghabiskan waktu liburnya yang singkat untuk menikmati alam yang masih alami dan jauh dari Jakarta yang begitu penat dan padat.

Kawasan Sentul, Bogor memang selalu jadi tujuan utama bagi saya untuk menghabiskan weekend bersama orang terdekat atau teman seperjalanan. Udara yang masih sejuk dengan cuitan suara burung yang masih seringkali terdengar ditambah derasnya gemercik air yang berjatuhan dari tebing diketinggian membuat suasana terasa begitu nyaman.

RUTE CURUG CIKUDA

Akhir pekan memulai perjalanan dari Jakarta tepat pada pukul 07.00 AM dengan kondisi jalan yang sangat lancar, melewati jalan tol ke arah Pintu Sentul Selatan 1 dan masih harus melanjutkan perjalanan menuju Jungleland yang berada di kawasan Sentul. Setelah menemukan Jungleland kami harus belok kanan dan terus mengikuti jalan hingga menemukan banner bertuliskan CURUG KENCANA.

Setelah menemukan belokan yang patah dan sedikit menanjak, dengan kontur jalan yang sempit dan hanya cukup untuk satu mobil saja yang melewati jalan tersebut. Akhirnya ada yang datang untuk membantu agar jalanan tidak macet dan kami diarahkan ke parkiran yang terpakir di rumah warga karena kondisinya sangat ramai.

Motor sudah banyak berjajar rapi di tempat yang telah tersedia, begitupun mobil yang tidak begitu rapi penempatannya karena memang tempatnya yang tidak terlalu luas dengan kondisi masih banyak rumah warga yang masih ada disana.



LOKASI CURUG CIKUDA

Tujuan utama kami sebenarnya akan ke Curug Love jadi kami harus menemukan jalan menuju Curug Love terlebih dahulu. Perjalanan pun memakan waktu hingga sejam. Kami harus melewati beberapa curug yang ada disana. Kalau di total curug yang berada di Komplek Wisata Curug Kencana ada Leuwi Pariuk, Leuwi Demang, Curug Putri Kencana, Leuwi Baliung, Leuwi Panjang dan terakhir Curug Love.

Tapi nyatanya masih ada beberapa curug yang belum terekspos dan hanya warga sekitar saja yang sudah tahu. Namanya Curug Kapas dan Curug Cikuda. Kedua curug tersebut masih satu arah. Buat kamu yang ingin mengunjungi kedua curug itu bisa hubungi Akang Adeng 081584624458.

Belakang saya Akang Adeng (Kaos Hitam)

Tujuan kami setelah Curug Kapas yaitu Curug Cikuda dengan kontur jalan yang sangat sempit ditemani ilalang yang masih tinggi dan rimbun serta masih harus melewati kebun kopi sehingga kami harus merunduk saat melewati kebun kopi. Kondisi jalan yang sangat miring membuat kami berjalan secara perlahan agar dapat mengatur keseimbangan tubuh agar tidak terpeleset.

Setelah menyusuri kebun kopi kami pun masih harus melewati hutan bambu yang menjulang sangat tinggi. Gundakan tanah yang tidak merata membuat kami harus naik turun melewati gundakan tersebut. Saat gemercik air telah terdengar akhirnya kami harus menuruni gundakan tanah yang tinggi dengan bantuan akar pohon yang mejuntai kebawah.

Ternyata saat akan turun pun kami merasa sangat kesulitan karena memang sedikit susah untuk bisa seimbang. Saya beruntung karena bisa mengatasi keseimbangan tubuh saya, lain halnya dengan Esa yang mengalami kesulitan karena tinggi badannya dengan sendal yang sangat licin sehingga membuat esa terperosok. Untungnya tidak terlalu dalam kondisi jalannya.


Kalian pikir kami sudah sampai? belum bung!!!

Kami masih harus menyusuri sungai dengan kondisi air yang sangat jernih. Bahagianya saat melihat aliran air sungai yang begitu deras namun kondisi air tidak terlalu tinggi. Karena tidak ada penyebrangan walhasil kami harus melewati aliran sungai dengan menapaki bebatuan yang ada disana.

Saat saya tidak menapaki bebatuan yang lebih tinggi, kondisi air hanya sebetis saja kok jadi masih terbilang sangat aman. Tapi saya tidak menyarankan kalian untuk menuju Curug Cikuda saat kondisi sedang hujan karena airnya akan sangat deras sekali dan itu akan sangat membahayakan nyawa kalian.

Tak hanya memijak bebatuan melainkan kami harus memanjat dari batu satu ke batu lainnya. Mudah? tidak bung!!! susah bangeeeettttt, belum lagi licin pula saat akan pindah dari batu satu ke batu lainnya. bahkan Akan Adeng beberapa kali mengulurkan tangannya ke saya dan esa agar tetap aman selama diperjalanan



Saat menyusuri sungai hal yang tidak bisa saya lewatkan yaitu berhenti sejenak untuk menikmati kesegaran alami dari aliran air sungai yang begitu jernih. Tak hanya itu saja, saya pun tak mau melewatkan moment tersebut dengan berfoto sesaat disana.

Lagi lagi Esa terpeleset saat berjalan diantara bebatuan. Tapi untungnya memang kondisi air sedang surut jadi tidak terlalu dalam. Kedalam air hanya sampai sebetis kaki dewasa dengan menyusuri himpitan batu dengan cara sedikit memanjat.  Hingga akhirnya kami menemukan Curug Kapas terlebih dahulu.

Tak lama kami istirahat sejenak di Curug Kapas karena kami tidak mau saat pulang dari Curug Cikuda waktunya terlalu sore dengan kondisi langit yang begitu gelap. Maka dari itu, Kami masih harus melanjutkan perjalanan hingga Curug Cikuda.

CURUG CIKUDA

Sejam kemudian kami pun tiba di Curug Cikuda. Saat saya tanyakan apa alasannya dinamakan Curug Cikuda, Akang Adeng hanya bilang kalau bentuknya seperti kuda. Tapi saat kami lihat bentuk Curug tersebut, tidak ada samanya dengan kuda.

Gemuruh air yang terjatuh dari tebing dengan ketingian 3 meter membuat saya merasa ingin sekali memanjat untuk naik keatas dan melihat secara dekat kondisi Curug Cikuda yang begitu cantik dengan airnya yang begitu jernih dan deras.




Curug Cikuda masih banyak yang belum tau kalau disini pun juga ada curug yang masih belum terjamah oleh penduduk sekitar. Memang sudah ada beberapa orang yang pernah mengunjungi curug ini tapi memang belum banyak karena memang medan perjalanannya masih terbilang belum aman.

Saat kalian akan mengunjungi Curug Cikuda pun tak bisa sembarangan jalan sendiri begitu saja harus ada pemandu yang mengantarkan sampai tujuan karena memang belum ada petunjuk jalan dan juga masih harus melewati perkebunan yang begitu rimbun.

Kami pun juga tidak lama bermain air disini, langit sudah begitu gelap. kami pun tidak mau saat pulang kondisi jalan semakin gelap karena masih harus melewati kebun kopi dan juga pohon bambu. Kebayangkan horornya gimana. Walhasil gak sampai setengah jam kami beristirahat sejenak di Curug Cikuda dan masih harus menyusuri sungai untuk sampai lagi di Curug Love.

BARANG YANG HARUS DIBAWA

  • Dry Bag dengan jumlah barang secukupnya
  • Minuman karena belum ada penjual disana
  • Makanan atau cemilan seperti coklat karena perjalanan masih jauh
  • Gunakan alas kaki yang proper jangan cuma sendal jepit aja, bahaya
  • Jangan lupa bawa kamera beserta power bank nya
  • Hammock kalau punya
  • Baju ganti biar gak masuk angin pas mau balik karena lokasi toilet jauh

Sesampainya di Curug Love, kami pun tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Maka dari itu, buat kamu yang mau kesana perhatikan tulisan saya yang sebelumnya yah.

Satu hal penting adalah berhati-hatilah saat bawa kamera mirorless. Ada baiknya sih mendingan bawa kamera seperti Gopro dan sejenisnya karena lebih aman saat menyusuri sungai.

Sekian dan terima kasih, buat kamu yang pernah juga berkunjung ke Curug Cikuda. Ikutan sharing pengalaman kamu yuk. kali aja bisa buat tambahan informasi buat teman-teman yang akan mengunjungi Curug Cikuda dan Curuk Kapas.

Cheers,

Dian Juarsa
30 July 2018

8 komentar:

  1. Kan maen #RatuCurug...
    Kalau udah banyak koleksi curugnya bikin postingan list gitu donk "10 Curug Ramah Keluarga" atau "5 Curug yang Pas Buat Pacaran" :D
    #RikuesNetijen

    BalasHapus
    Balasan
    1. wuahaaaaaiiii netijen maha benar...akan aku kabulkan permintaanmu. Etapi itu curug yang pas buat pacaran gak salah apa yah hahahahaa

      Hapus
  2. Terima kasih #infocurug nya Ka , mau nanya , kalau ke curug gini selalu bawa fotografer pribadi ya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha kebetulan photographernya bisa dibayar pake cinta #eeeeaaaaa

      Hapus
  3. Gak nyesel ya jalannya jauh, curug Cikuda emang kece.
    Sebenarnya masih pengen eksplor curug di sekitaran sini, cuma masih trauma karena pernah keseret air dan hampir kebanting ke bawah curug :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh serem bangeeettttt...hati-hati selama diperjalanan. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan

      Hapus
  4. Nice review. Recommend dari aku aebagai pembaca setia mungkin bisa review curug kiara, curug bendungan, curug walet di desa Ciasihan Kec. Pamijahan kaki gunung Salak. Curug2 tersebut masuknya bukan dari taman nasional tapi dari desa wisata Ciasihan. Walaupun msh deket ke taman nasional tp rute kendaraannya harus muter lagi. 3 curug tersebut masih bersahabat medannya yg paling parah itu jalur ke Curug Geblug dan Curug Kembar. Ditunggu ulasan selanjutnya. Keep exploring the waterfalls 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaahhhh ternyata masih banyak yaaa curugnya. Oke siaaapp semoga aku bisa datengin curug satu persatu yg km sebutin tadi. Terima kasih banyak sudah jd pembaca setia blog untold story nya yaaa.

      Hapus

Yuk ah komen sambil rumpi lebih baik, daripada cuma sebarin Spam

FANPAGE FACEBOOK

Twitty

Contact Us


Haloha...Jika kalian menemukan kendala atau masalah dengan Blog Untold Story. Kalian bisa menghubungi kami dengan mengisi Contact Form dibawah ini. Apabila ada sesuatu yang ingin ditanyakan atau ingin bekerja sama dengan kami. Dengan segera mungkin kami akan cepat tanggap dan menyediakan waktu untuk anda. Kami juga menerima kritik dan saran yang membangun agar Blog Untold Story dapat berkembang lebih baik lagi. Terima Kasih 


Name :

Email: *

Message: *



Hubungi Kami :
Nama : Dian Juarsa
Email : dianpjuarsa@gmail.com
Phone : 0813 222 030 93